Suku Monrest tidak membiarkan api melahap seluruh kampung. Mereka hanya membakar beberapa pondok untuk memberi peringatan. Setelah puas, mereka memerintahkan para tawanan untuk membawa barang-barang dan mereka mulai membawa tawanan ke dalam hutan, meninggalkan kehancuran di belakang mereka. Para keluarga yang kehilangan anggota mereka menangis, beberapa berlutut di tanah, meratapi nasib mereka.

Ketika bayangan mereka menghilang ke hutan, hanya suara tangis penduduk yang tersisa di kampung yang porak-poranda. Lynx menatap dengan rahang terkatup, matanya penuh dengan kemarahan yang tidak bisa ia tahan lebih lama lagi.

Lynx memandang pemandangan itu dengan tatapan tajam. Ia tidak bisa menahan kemarahannya lagi. “Aku bersumpah, mereka akan membayar untuk ini,” gumamnya dengan suara rendah yang penuh tekad.

Sherly meliriknya dengan ekspresi serius. “Kalau kau benar-benar bersumpah, pastikan kau punya rencana. Karena ini akan lebih sulit daripada apa pun yang pernah kita lakukan.”

Lynx tidak menjawab, tetapi dalam hatinya, ia tahu bahwa apapun rintangan yang ada, ia tidak akan membiarkan suku Monrest terus meneror penduduk yang tidak bersalah.

Setelah suku Monrest pergi, Lynx, Leena, dan Sherly keluar dari persembunyian. Kampung itu penuh dengan sisa arang dan asap. Beberapa penduduk mulai berkumpul, mencoba menyelamatkan apa yang bisa mereka selamatkan.

“Setidaknya mereka tidak membakar semuanya,” gumam Sherly, nadanya sinis.

“Tapi mereka mengambil sepuluh orang. Itu tidak bisa kita biarkan,” jawab Lynx.

Di dekat puing-puing, Karim merangkak bangkit dari tanah. Tubuhnya penuh luka, tetapi ia memandang ke arah hutan dengan pandangan yang sama sekali tidak menyerah.

“Adikku...” katanya pelan, sebelum mulai melangkah terhuyung-huyung.

“Dia akan membunuh dirinya sendiri,” kata Sherly.

“Kita tidak bisa membiarkannya,” jawab Lynx tegas. “Kita harus membantunya.”

"Tapi itu bukan urusan kita. Jangan campuri urusan mereka agar kita bisa fokus kembali pulang dengan selamat." Bujuk Sherly.

Namun Lynx tetap dengan keputusannya yang sudah bulat. Sherly hanya bisa pasrah mengikuti sambil memikirkan cara memanfaatkan keadaan ini. Lalu mereka bertiga mengikuti Karim ke dalam hutan, memulai langkah awal perjalanan yang akan menguji kekuatan hati dan keberanian mereka.

Karim terus melangkah, tetapi jalannya jelas lambat dan terhuyung. Luka di kakinya membuatnya terpincang-pincang, dan ia beberapa kali hampir jatuh. Sementara itu, suku Monrest, meskipun membawa para tawanan, juga bergerak lambat karena bawaan barang dan jumlah besar kelompok mereka.

"Dia akan segera tertangkap," bisik Leena, suara paniknya nyaris pecah.

Ketika Karim akhirnya mendekati mereka, ia mengangkat sebilah kayu yang ia temukan di tanah dan mencoba menyerang salah satu Monrest dari belakang. Namun, gerakannya yang lemah langsung membuatnya mudah dilawan. Salah seorang Monrest memukulnya dengan tongkat besar, menghancurkan kayu di tangannya dan membuatnya jatuh ke tanah.

Karim tidak menyerah. Dengan sisa tenaga, ia berusaha bangkit lagi, tetapi seorang Monrest lainnya menendangnya keras hingga tubuhnya terlempar ke tanah. Darah mengalir dari sudut bibirnya, dan ia tidak bergerak.

"Dia akan mati kalau kita tidak melakukan sesuatu," kata Lynx tegas.

"Kita tidak usah ikut campur Lynx, itu urusan mereka?" gumam Sherly, namun mau tidak mau dia tetap mengikuti langkah Lynx.

"Tunggu disini!" Perintah Lynx kepada Leenda dan Sherly, lalu Lynx segera bergerak. Ia berlari keluar dari tempat persembunyian, menghindari perhatian Monrest yang sedang sibuk mengatur tawanan. Ia merunduk dan menarik tubuh Karim ke balik semak-semak sebelum ada yang menyadarinya.

Leena dan Sherly segera menyusul, membantu mengangkat Karim ke tempat yang lebih aman. Ketika mereka akhirnya cukup jauh dari area Monrest, Lynx memeriksa napas dan denyut nadi Karim.

"Dia masih hidup," katanya pelan. "Tapi keadaannya buruk."

Mereka menemukan tempat yang terlindung di bawah pohon besar. Lynx segera merobek kain dari pakaiannya untuk membalut luka Karim. Leena mengeluarkan beberapa herbal yang ia bawa, mengoleskannya ke luka untuk menghentikan pendarahan. Sherly berjaga, memastikan tidak ada yang mengikuti mereka.

Saat matahari pertama muncul di ufuk timur, sinarnya yang lembut menembus dedaunan, menyentuh wajah Karim yang masih terbaring lemah. Ia menggeliat pelan, mengerang karena rasa sakit yang menyengat di sekujur tubuhnya. Kelopak matanya terbuka perlahan, dan pandangannya yang buram berangsur-angsur menjadi jelas.

Di hadapannya, Lynx duduk bersila, memandangnya dengan ekspresi waspada namun tenang.

“Kau...” suara Karim serak, nyaris tak terdengar. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya. “Kau yang menolongku... waktu itu. Di hutan.”

Lynx tersenyum tipis. “Dan sekarang aku melakukannya lagi.”

Karim tertawa kecil, tapi tawanya berubah menjadi batuk yang mengguncang tubuhnya. Ia memegangi dadanya dengan ekspresi kesakitan, lalu mengangkat pandangan pada Lynx dengan mata yang penuh rasa terima kasih.

“Aku... tidak tahu bagaimana membalasmu,” katanya pelan. “Kau menyelamatkanku, dua kali.”

Leena mendekat, membawakan air dalam cangkang tempurung kelapa yang ia isi dari sungai kecil terdekat. Ia menyodorkannya kepada Karim, yang meminumnya perlahan. “Kalau kau terus seperti ini,” kata Leena dengan nada lembut tapi tegas, “tidak peduli berapa kali kau diselamatkan, kau akan kehabisan nyawa.”

Karim hanya menunduk, tak menjawab. Tapi setelah beberapa detik, ia mencoba bangkit, meskipun tubuhnya bergetar dan ia hampir jatuh kembali. Lynx menahannya dengan sigap.

“Aku tidak bisa diam di sini,” kata Karim dengan suara yang tiba-tiba penuh tekad. “Adikku. Aku harus mengejar mereka. Aku harus menyelamatkannya.”

“Itu bunuh diri,” potong Sherly tajam, mendekat sambil melipat tangan di dada. “Mereka ada tiga puluh orang. Kau tidak akan bisa melawan mereka sendirian, apalagi dalam kondisi seperti ini.”

Karim memandang Sherly dengan tatapan keras, bibirnya bergetar menahan amarah. “Dia satu-satunya keluargaku yang tersisa. Aku tidak peduli. Kalau aku menyerah sekarang, itu berarti aku telah membunuhnya dengan tanganku sendiri.”

Lynx melangkah maju, berdiri di antara mereka. “Kami akan membantumu.”

Karim menoleh dengan wajah bingung. “Apa maksudmu?”

“Kami akan bersamamu,” lanjut Lynx dengan nada mantap. “Kami tidak bisa membiarkan suku Monrest terus bertindak seperti ini. Kalau kau mau menyelamatkan adikmu, maka kami akan berjuang di sisimu.”

Karim mendengus lemah, lalu menggeleng dengan skeptis. “Kenapa? Kita bahkan tidak saling mengenal. Kau tidak berhutang apa-apa padaku.”

Lynx menatapnya lurus, tidak mundur dari pertanyaan itu. “Kau benar. Kita tidak saling mengenal. Tapi aku tahu apa artinya melindungi seseorang yang penting. Aku juga tahu apa rasanya kehilangan. Kau tidak perlu percaya padaku sekarang. Tapi kau tidak akan melakukan ini sendirian.”

Karim terdiam, memproses kata-kata Lynx. Ia menatap Lynx, mencoba menemukan tanda-tanda kebohongan di wajahnya, tetapi yang ia lihat hanyalah tekad yang tulus.

“Kalau begitu...” Karim berkata dengan suara yang hampir pecah. Ia menunduk, genggamannya di tanah mengeras. “Kalau aku berhasil menyelamatkan adikku... aku akan menjadi budakmu. Aku akan melakukan apapun untuk melunasi hutangku padamu.”

“Budak?” Lynx mengerutkan kening, lalu menepuk bahu Karim dengan lembut. “Aku tidak butuh budak.”

Karim mengangkat pandangannya, bingung.

“Aku butuh teman,” lanjut Lynx. “Teman saling membantu, bukan karena utang, tapi karena itu yang benar.”

Sherly mendengus di belakang mereka, tetapi matanya melunak, sementara Leena tersenyum kecil, meskipun masih ada kekhawatiran di wajahnya.

Karim terdiam lama. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia menunduk untuk menyembunyikannya. “Teman...” katanya pelan, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri. Ia kemudian mengangkat kepalanya, menatap Lynx dengan tatapan penuh rasa syukur. “Kalau begitu, teman... mari kita lakukan ini bersama-sama.”

Lynx mengangguk, lalu menjulurkan tangan untuk membantunya berdiri. “Kita mulai saat kau siap.”

Karim menggenggam tangan Lynx dengan erat. “Aku akan siap. Dan aku tidak akan melupakan ini.”

Semangat di antara mereka bangkit, dengan keyakinan bahwa bersama, mereka memiliki kekuatan untuk melawan apa pun yang menghadang. Untuk pertama kalinya, persahabatan mulai tumbuh di antara mereka, menjadi kekuatan yang menyatukan langkah mereka menuju perjuangan yang lebih besar.

"Minumlah obat ini, agar kamu bisa segera pulih," kata Leena sambil menyodorkan sebuah daun berisi cairan berwarna hijau.

Setelah Karim meminum obat yang diberikan Leena, mereka saling memperkenalkan diri dan menyusun rencana untuk menyelamatkan adiknya.

"Sudah berapa lama aku pingsan?" tanya Karim.

"Cukup lama, sekarang matahari sudah keluar. Kami tidak tahu apakah kamu paham, lebih dari dua belas jam kamu tertidur" Jawab Lynx.

Karim mengerutkan alis, menatap Lynx dengan kebingungan yang nyata. “Dua belas jam? Apa itu? Aku tidak mengerti.”

Lynx tertegun, menyadari bahwa konsep waktu yang ia gunakan mungkin asing bagi Karim. Ia berpikir sejenak, mencoba mencari cara yang lebih sederhana untuk menjelaskan. “Dua belas jam… maksudku, kau tertidur sejak malam sampai pagi ini. Matahari sudah naik lagi.”

Karim mengangguk perlahan, matanya menyipit saat ia memandang langit. “Ah, aku paham. Tapi dari suku mana kalian berasal? Kenapa aku merasa sangat asing dengan kalian,” tatap Karim memandangi Lynx, Leena dan Sherly bergantian.

Leena tersenyum kecil, meskipun wajahnya tetap serius. “Hal itu tidak penting sekarang. Yang penting adalah memastikan kau cukup kuat untuk apa yang akan kita lakukan.”

Karim mengangguk dengan tekad baru, meskipun wajahnya masih pucat. “Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kalau kita menunda, mereka akan semakin jauh. Aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan pada Aliah.”

Lynx menatapnya lekat-lekat. “Aku tahu kau khawatir, tapi kau tidak akan bisa melawan Monrest dalam keadaan seperti ini. Istirahatlah sebentar, makan sesuatu, dan kita akan membuat rencana.”

Sherly, yang sejak tadi diam, mendengus sinis. “Rencana? Sejujurnya, aku penasaran bagaimana kau akan melawan tiga puluh orang hanya dengan kita berempat.”

"Karim, apakah kamu tahu kemana mereka membawa adikmu?" tanya Lynx.

Karim menganggukkan kepala dan berkata dengan geram, "Aku tahu. Mereka selalu menangkap orang-orang kami untuk dibawa ke tempat mereka."

Lynx mengepalkan tangannya menahan emosi. "Jadi selama ini mereka sering menangkap orang-orang kalian?" tanyanya.

"Mereka sering menangkap orang-orang dari berbagai suku untuk dijadikan budak, dan dijadikan pengorbanan." Jawab Karim dengan emosi sambil mengepal kedua tangannya.


